Istigasah Ujian Nasional

Polemik mengenai istigasah semalam suntuk yang dilakukan sejumlah sekolah menjelang ujian nasional (UN) terus menuai kritik. Psikolog anak, Seto Mulyadi, mengatakan, sekolah juga harus mempertimbangkan kondisi fisik siswa. Jika diselenggarakan hingga larut malam, dikhawatirkan justru mengganggu psikologis siswa yang bersangkutan.

"Jangan sampai apa yang maksudnya baik, tetapi dengan cara yang keliru itu, justru akhirnya kontraproduktif," ujar pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini ketika ditemui Kompas.com di kediamannya di Perumahan Cireunde Permai, Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Menurut Kak Seto, istigasah bukan merupakan satu-satunya cara yang menentukan siswa lulus atau tidak. Ia menilai, hal tersebut hanyalah sebagai penyimbang dari usaha siswa itu sendiri.

"Artinya berlebihan itu, sampai kekurangan waktu istirahat," kata Kak Seto.

Untuk itu, kata Kak Seto, acara istigasah tersebut sebaiknya dilakukan sewajarnya, tidak perlu sampai semalam suntuk. Selain dapat mengubah makna istigasah sendiri, hal tersebut juga dapat membuat mental psikologis dan kesehatan siswa terganggu.

"Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik, seperti orang belajar itu baik, tetapi kalau terus belajar sampai pagi kan tidak baik juga. Mereka juga harus istirahat tentunya," tutur Kak Seto.

Seperti diberitakan sebelumnya, SMAN RSBI 13 Jakarta Utara berencana menggelar istigasah semalam suntuk. Doa bersama tersebut dilaksanakan mulai pukul 18.30 sampai pukul 05.00 pada Jumat atau tiga hari menjelang UN. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 13 Nanang Kosasih mengatakan, doa bersama itu dilaksanakan sebagai bekal psikologis para siswa yang akan menghadapi UN.