Kehidupan Batin Budaya

Apa arti bicara soal budaya pada abad 21 ini? Bagaimana sesungguhnya hubungan-hubungan antara berbagai budaya berbeda yang kian intens berkat perkembangan komunikasi aktual atau virtual? Bagaimana sepatutnya kita dapat menjalankan percakapan-percakapan lintas budaya yang dapat memperkuat saling pengertian, bukan sebaliknya-konflik dan permusuhan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, yang patut direnungkan, disodorkan Eva Hoffman dalam pengantarnya untuk buku The Inner Lives of Culture (London: Counterpoint, 2011). Karya ini membahas tentang bagaimana seharusnya hubungan-hubungan antarbudaya di masa globalisasi sekarang, yang semula merupakan makalah konferensi yang diselenggarakan pada 2010 di Brussells oleh Counterpoint, British Council. Berbagai bab yang mewakili perspektif interaksi budaya terwakili sejak dari Brasil (Nicolau Sevcenko), Cina (Su Sunyan), Mesir (Hamed Abdel Samad), India (Pratap Bhanu Mehta), Indonesia (Azyumardi Azra), Iran (Ramin Jahanbegloo), Meksiko (Fernando E Gonzalbo), Rumania (Carmen Firan), Rusia (Alena Ledeneva), dan Uzbekistan (Hamid Ismailov).

Para penulis terlihat mewakili perspektif budaya yang sering berada dalam posisi 'marginal'-di bawah hegemoni budaya Amerika dan Eropa Barat. Dan bahkan tidak jarang pula mereka berada di bawah dominasi politik 'Dunia Pertama'. Tetapi, penetrasi globalisasi yang menyerbu wilayah-wilayah mereka mendorong resistansi dan sekaligus revitalisasi identitas budaya masing-masing. Pada saat yang sama, migrasi penduduk negara-negara tersebut dalam jumlah besar ke dunia Amerika dan Eropa Barat mengalami kesulitan dalam akulturasi dan integrasi dengan masyarakat setempat. Semua ini menimbulkan ketegangan, konflik, dan bahkan antipati masyarakat lokal terhadap kaum migran seperti sering terjadi di banyak bagian Eropa Barat dan juga Amerika.

Dalam konteks itu, menarik mempertimbangkan argumen Hoffman bahwa dalam dunia kini yang saling bercampur dan sekaligus multicenters hampir tidak mungkin lagi berpikir tentang hubungan-hubungan budaya dalam kerangka 'memaksakan' suatu budaya tertentu di mancanegara. Juga tidak patut pula terus mengekspor atau 'memaksakan' budaya dari beberapa 'pusat' yang hegemonik ke wilayah-wilayah yang sering disebut sebagai 'periferi'. Jika hubungan-hubungan di antara berbagai budaya masih tetap seperti itu, yang muncul adalah perbenturan dan konflik budaya yang memerlukan waktu panjang untuk menyelesaikannya.

Oleh sebab itu, interaksi dan pertukaran budaya haruslah berlangsung sebagai multiarah yang melibatkan dialog dan partisipasi timbal balik. Proses seperti ini meski tidak mudah, tapi jika bisa dipahami dan dilaksanakan berbagai budaya, dapat menghasilkan saling pengertian dan berbagai bentuk hubungan konstruktif lainnya.

Dalam perspektif itu, pengertian budaya tidak terbatas hanya pada literatur sastra, musik, dan tarian. Tetapi, seluruh tenunan bentuk dan makna sosial yang merupakan pengalaman budaya yang hidup, kaya, dan aktual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, budaya bukanlah sesuatu yang ada di luar diri seseorang atau masyarakat tertentu, melainkan eksis di dalam diri yang membentuk kesadaran dan subjektivitas-persepsi, gagasan, dan perasaan. Inilah yang dapat disebut sebagai 'kehidupan batin budaya'.

Berbagai budaya mengandung perbedaan-perbedaan tertentu dalam 'kehidupan batin' budayanya. Dalam masyarakat tertentu seperti Indonesia, kehidupan batin budaya itu sering sangat diwarnai prinsip dan nilai agama, tetapi dalam masyarakat-masyarakat lain, boleh jadi lebih dipengaruhi pandangan dunia yang bersandar pada 'humanisme sekuler'.

Oleh sebab itu, adalah ironi dan menyedihkan jika ada orang yang dilahirkan di bumi Indonesia ini, yang mendapat berkah kehidupan di negeri ini, tetapi menolak menghormati simbol-simbol negara ini, seperti bendera merah putih atau lagu Indonesia Raya. Sikap seperti ini sebagai aspirasi 'demokratis' mungkin boleh-boleh saja, tetapi rasanya tidak patut dan bahkan bisa jadi merupakan semacam 'kufur' nikmat-tidak bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah dilimpahkan kepada Indonesia.

Ulama sekaliber Syekh Muhammad Rasyid Ridha dalam jawabannya di dalam jurnal al-Manar, Kairo, terhadap pertanyaan seorang ulama dari Kalimantan Selatan pada awal abad 20 tentang ihwal cinta Tanah Air menegaskan tentang hubb al-wathan min al-iman-cinta Tanah Air adalah bagian daripada iman. Rasyid Rida, murid Syekh Muhammad Abduh yang juga terkenal sebagai ulama reformis yang menekankan kemurnian iman dan akidah, sama sekali tidak memandang cinta Tanah Air sebagai sikap musyrik.